PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

March 25, 2009

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

March 25, 2009

ACCESSIBILITAS NO, KEPEDULIAN OK.

February 16, 2008

ACCESSIBILITAS NO, KEPEDULIAN OK.

 

Kepedulian masyarakat kini terasa lebih baik dibanding beberapa puluh tahun yang lalu. hal itu  dapat aku rasakan dari kenyataan sehari-hari. sikap baik itu dapat dirasakan dari kenyataan hidup yang aku alami sendiri. Semisal jika aku bepergian kemanasaja kini sudah dapat dirasakan tidak lagi mengalami kesulitan yang berarti. Tidak pula ada yang melecehkan dengan cara memberi uang recehan cepe.tentu ini bukan hasil sebuah penelitian,tapi setidaknya salah satu objek penelitian yang berbicara. Contoh kongkrit ketika aku berangkat atau pulang kerja, walaupun jauh, dang anti-ganti kendaraan tidak lagi sulit seperti dulu, sewaktu aku bersekolah. Aku kan kalau mau berangkat kerja itu jika naik angkot harus tiga kali ganti. Jika dengan mobil luar kota cukup dua kali.

Diterminal untuk ganti angkot ke angkot berikutnya tidak lagi susah karena ketika turun dari angkot juga sudah disambut dengan pertanyaan dan siap mengantar atau menunjukan kemana saja yang hendak aku tuju. Seakan-akan dimana-mana ada “pasukan kepedulian reaksi cepat” aku selalu mendapat pertolongan dari orang- orang yang kebetulan menjumpai aku. Hingga kalau mau berganti angkotberikutnya , aku selalu dibantu sehinga terasa estavet dari tangan ketangan hingga akhirnya duduk diangkot tujuan. Kalau aku mau nyebrang jalan raya yang sangat ramai dengan kendaraan tidak begitu lama menunggu baru juga kuayunkan tongkat sudah ada bertanya “mau nyebrang?” tentu sebuah pertanyaan yang kuharap. Dengan serta merta menggandeng tanganku dibawa nyebrang.

Jika aku mau beli barang elektronik aku pernah pergi ke BEC (Bandung Elektronik center) satpamnya mengawalku tanpa diminta dari mulai kedatanganku hingga aku pulang. Kalaupun harus naik escalator/lip  tak jadi persoalan, Karena diBantu.

Aku coba pergi ketempat rekreasi waktu itu aku pergi berdua dengan temanku sama-sama total ke Gua Pakar. Kami dibantu dari pintu masuk, hingga melewati  jalanan yang terjal atau berbahaya. Baru dilepas dijalanan yang aman. Lalu kami berjalan-jalan menelusuri jalanan sepanjang kurang lebih 7 kilo meter. Tidak jadi persoalan. Masuk dua, keluar gua belanda selayaknya orang-orang awas kami menikmati wisata itu dengan penuh kepuasan. di jalan jika ingin beristirahat, aku mudah juga mendapatkan tempat duduk yang layak seperti bangku-bangku dalam dangau caraanya dengan mengorientasi jika ada baying-bayang bangunan.atau ditepi jalan ada yang teduh-teduh. Jangan hawatir, logikanya ditempat seperti itu kalau ada tempat yang teduh, bila bukan pohon pasti dangau yang sengaja dibuat untuk orang beristirahat.

Bila terpaksa harus nanya, itupun tidak masalah asal dengan gaya dan cara yang sopan penuh basa basi taka pa. bahkan pengalaman menujukan dengan cara yang rama kita akan bertambah teman.

Masuk restoran juga mendapat pelayanan yang wajar. Misalnya dulu teman aku bercerita, jika hendak kerestoran harus dengan orang awas. Karena acces didalamnya memerlukan penglihatan. Ternyata ketika aku coba berkunjung ke sebuah restoran sekelas sumur (susu murni)di Lembang, itu kan tempatnya diseting per local,dibikin saung-saung. Agar lebih romantis kali. Dan dari tempat resepsionis ke meja di saung-saung agak jauh. melewati taman-taman. Aku datang dengan bertongkat ke resepsionis dan dilayani dicatat pesananya, lalu diantar ketempat saungnya.

Kalau dulu boro-boro datang ke restoran, datang ke warung nasi saja sudah dikasih uang cepe sambil di usir. Dikiranya pengemis. Sekarang pergi ke warteg, ke restoran ampere juga mendapat pelayanan yang wajar. Pengalaman aku ketika datang ke ampere diresepsionis dan berpesan menu apa saja yang kumau lalu diantakan (dicarikan meja yang kosong) selesai makan aku berjalan ke kasir yang membantu aku waktu itu adalah suara printernya. Hingga aku tak salah.

Aku dan temanku juga total pernah mencoba pergi rekreasi ke Maribaya sebuah kawasan wisata alam dengan air panasnya. Di bandung utara juga mendapat pelayanan yang wajar. Walau acces jalan mulai dari pintu masuk hingga kolam air panas itu menurun agak terjal,kami diantar oleh petugasnya tanpa diminta kami dibinbing, diberi tahu, dan di jemput ketika mau pulang. (dari kolam menuju ke pintu gebang.

Ketempat umum lainnya missal ke kantor pos pusat, sejak aku muncul dipintu gerbangnya satpam sudah beraksi membantuku “hendak kemana? Mau apa?” “boleh aku Bantu?” Tanya dia sambil menuntunku. Jika aku mau bayar telepon atau bayar listrik satpam menunjukan dimana aku harus berdiri untuk mengantri. dengan cara ini memudahkan aku berurusan.

Pergi ke bangk missal yang aku pernah ke BRI, atau BNI  UPI. Disanah aku tak perlu mengantri seperti orang umum karena oleh satpam didalam bank tersebut diantar kepersonal yang berhak mengurusnya. urusan jadi lancer. Jadi ketuanetraan ini dirasakan bukan lagi sebuah penderitaan, atau menjadi alasan untuk minder, malu, terhina jadi egan bepergian. Saya merasa sangat bersyukur sekali dengan sikapmasyarakat ewasa ini dan sangat menikmatinya.

Berbeda dengan sekali sikap masarakat pada tahun 1983 waktu itu aku baru masuk sekolah di SMA VIII. Yang terletak di jalan Solontongan buah batu Bandung. Aku tinggal di Wyata Guna. Lumayan jauh menurut ukuran aku, bahkan ada yang bilang sangat jauh. Memang pada waktu itu sekolah yang mau menerima tunanetra sangat lah sedikit. Hanya ad dua sekolah negeri. Yaitu SMA II. Dan SMA VIII. Sekolah suasta ada juga dan yang terbilang mudah dan mau menerima yaitu SMA SEMAK (sekolah menengah atas keristen. Banyak kaka-kakak aku dulu bersekolah di SEMAK tersebut. Dapat masuk sekolah negerri terbilang hebat waktu itu karena harus bersaing dengan orang awas. Melalui testing. Ditambah dengan sikap sekolah yang belum bisa menerima orang buta. Dulu ada mitos tunanetra itu lebih baik dikasihani dari pada diberi pengertian. Sekarang mitos itu terkikis mungkin salah satu faktonya, masyarakat sering melihat kegiatan tunanetra, melalui media elektronik, maupun melalui media cetak. Atau tingkat pendidikan masyarakat generasi sekarang lebih maju dibanding dengan generasi masa itu. Pada waktu itu tunanetra mau naik mobil saja susah dianggapnya tidak akan bayar. Kalaupun mau bawa mungkin terlebih dulu sopirnya punya itikad beramal. Terbukti pada saat turun tidak mau dibayar. Jika tak punya tekad beramal sering kali diacuhkan tak diperdulikan, meski uang dikantong aku tersedia. Sebab orang tunanetra sendiri pada waktu itu sudah punya sikap tidaklah bepergian jika tak punya uang. Tapi masyarakat bersikap “sudahlah jangan ditarik kasihan”. Meski uang itu sudah disodorkan kepada sofir. aku pernah mau naik kesetat siun dari jalan Katamso lama sekali tidak dapat angkot. Karena mereka tidak mau berhenti ada juga yang memperlambat jalannya mau berhenti ketika sopirnya melihat ada aku (tunanetra) dia langsung tancap gas lagi. Itu terjadi beberapa angkot. Aku tahu, hal itu bukan aku berprasanngka buruk, aku waktu itu dibantu oleh tukan  beca. Kata si Emang beca sopirnya takut tidak dibayar. Pada jaman itu lebih enak kalau dibantu oleh polisi, pasti berhenti. tapi resikonya sang sopir tak mau dibayar. Ini kan menyinggung perasaan. Hal ini berdampak atau memuncikan lagi mitos baru (tunanetra itu anak Negara) hingga para sopir angkot enggan menariknya. Dampak lainnya terhadap si tunanetranya sendiri jika naik bus kota tak mau bayar. “ini kan mobil pemerintah” ujung-ujungnya menimbulkan kesulitan bagi tunanetranya itu sendiri. Karena mereka tidak mau berhenti bila melihat calon penumpangnya tunanetra.

Masyarakatt lainnya sama-sama calon penumpang egan membantu, entah apa lagi alasannya. aku waktu itu mau kesekolah dulu bus kota itu ada hallteunya. Aku menunggu disellter, terdengar oleh aku ada calon penumpang lain yamg sama hendak naik bus. Tapi tatkala bus datang mereka tidak mau memberi tahuaku. Mereka naik bergegas. Tanpa menghiraukan aku padahal mereka tahu aku akan menggunakan bus. Tapi aku tahu juga kalau bus kota itu datang, selain dari suaranya sama dengan truk, dari gerakan calon penumpang dari yang tadinya mengobrol dekanat aku tiba-tiba menjauh serntak. Kalau tidak ngobrol dari bayangannya yang tadinya dekan kin bergerak menjauh. Tapi aku pernah juga kecelek, sebenarnya yang datang truk, yang melambatkan jalannya karena kemacetan jalan, dikira aku dikira bus kota. Tahunya bahwa itu truk ketika terpegang bagian kalasorinya sama aku. Dan aku seketika itu juga mundur lagi memang sangat riskan kecelakaan. Tapi yah, .. ini kan jalan hidup yang harus aku jalani.

Aku pernah terdiam di bawah lebat hujan yang sangat lama. Kronologis kejadiannya begini waktu aku pulang dari sekolah, kelas satu masuknya siang, jadi pulang sore. Biasa aku naik bus kota jurusan Buah Batu dago. Nyambung bus kota jurusan Kiara condong-Ciroyom. Titik sambungnya bisa di depan Unpar, (kota madia) tepatnya jalan mendeka atau bisa juga di Wastukencana depan SEMA I. atau di purnawarman sebelum masuk ke Pajajaran bawah. Waktu aku diturunkan oleh konektur di depan Unpar saat hujan lebat. Ketika aku menginjakan kaki dijalan, air masuk kedalam sepatuku karena air jalanan sudah menggenang. Aku tak tahu dimana ada tempat yang teduh, aku tak punya pilihan, selain hujan cepat berhenti, atau cepat naik mobil. Namun harapan tinggal harapan, hujan tak kunjung berhenti, bahkan semakin deras bus kota yang kuharap tak mau kunjung, atau kalau ada juga lewat begitu saja. Lama sekali aku berdiri, pegal kaki sudahlah pasti,  dingin sudah bukan kepalang, hati sedih tak terperi,kok tak ada yang menolong. Aku orientasi keadaan disekitar tempat itu dibelakang ada pagar besi, sebelah depan aku jalan raya,sebelah kiri-kanan bantalan trotooir yang terputus-putus dan dengagn genangan air yang makin dalam keadaannya. Secara peta atau normal dari jalan merdeka ke jalan Pajajaran itu sudah dekat, akhirnya setelah aku menggigil kedinginan tak berkepastian bahkan mungkin aku hamper mati kedinginan ditambah rasa lapar yang kian lama kian terasa aku mengacung-ngcungkan tongkat akan menyetop semau jurusan. Ada diantaranya yang mau berhenti sebuah bemo jurusan dago kalapa. Daripada mati kedinginan di situ, aku pilih naik saja ke arrah terminal Kebun Kelapa dulu. dalam pikiran aku dari terminal Kebun Kelapa bisa naik lagi bemo jurusan Suka Jadi. Tidak apa menjauh dulu tapi ada kepastian, ada yang bisa aku lakukan. 

Akhirnya tiba juga diperempatan pabrik kina atau dekat perempatan Cihampeulas. Hujan sudah agak kecil setelah membayar aku ayunkan kaki seiring dengan ayanan tongkatku menelusuri trotoir sebelah kanan aku lemas, bajuku sudah basah sekali, karena selain diguyur oleh hujan, tak jarang juga sebrotan dari air jalan yang tergenang tergilas kendaran-kendaraan yang tidak bertanggunjawab. Kadang-kadang ditambah dengan pekikkan klakson yang sangat keras dapat merontokan jantung. Dengan rasa dingin yang  menggigit, rasa lapar yang melilit-lilit, ayunan kaki dan tangan yang kian lemas ahirnya sampai juga di asrama Wyata Guna jalan pajajaran 52.

Aku banting tas gendong bertulisan “tahan cewek mata duitan” itu sengaja ditulisi teman terdekatku. Lalu aku copotan segala sesuatu yang menempel di tubuhku. Kutaruh begitu saja disudut kamar, lalu kuraih handuk yang apek itu dan mungkin sudah kucel kalau sekarang mungkin tuh handuk sudah harus jadi kain pel. Lalu gosik-gosoksn keseluruh tubuhku.

Aku berganti pakaian tidak lupa memakai kaus kaki karena bekas kehujanan tadi masih juga belum hilang. Pakai sweeter lengkap dengan penutup kepala. Untuk menghilangkan rasa kesal dihati atas segala kejadian aku putar kaset keras -keras lagu the beatles album …. Ingin rsanya kutendangi segala sesuatu yang ada dikamarku. Aku banting pintu seenaknya. Aku pergi keruang makan hendak makan. untuk mengobati rasa lapar, 

Namun kayanya penderitaanku belum lengkap.  Sebab ketika aku sampai di depan ruang makan pintunya sudah tertutup. Tapi di dalamnya masih ada petugas sedang mencuci piring-piring lalu kudorong pintu, hapir-hampir tak kuasa.  Dengan susah payah kucari jatah makananku ditempat yang memang sudah biasanya. Kuraba-raba meja makan itu sudah kosong. Karena memang waktunya juga sudah malam jam 21 lebih. Aku Tanya kepembantu yang sedang sibuk mencuci segala perkakas makan ” sudah disikat temanmu” jawabnya.memang begitulah galibnya atau ada tradisi telat lima menit tanpa pemberitahyuan jatah disikat. Malamg nian aku. mau beri tahu bagaimana aku tengah beruang dijalan melawan dingin darijahatnya hujan. Aku hanya dapat minum  juga tak bisa minum banyak karena air yang tersedia sangat dingin. Aku balik ke kamar dengan segala kehampaan aku banting lagi tuh pintu. Tidak begitu keras tapi niatnya sih sekuat tenaga tapi apa daya tenagaku sudah kehabisan. Lalu aku telungkupp diatas ranjang tempat tidurku dengan berselimut seluruh tubuhku seakan menanti ajal kelaparan. Aku tak ingat lagi, enggak tahu tidur kecapean atau pinsan kelaparan. Memang kamarku sendirian. Diblok satu. Tidak seperti teman-temanku sekamar berdua. Temanku sudah lulus jadi sudah pulang.

Keesokan harinya badanku demam. Kepalaku terasa pusing,Suhu badanku naik mungkin masuk angin. Aku lemas tak bertenaga. Dering bel penggilan untuk sarapan dari mulai bel tanda persiapan, hingga panggilan makan aku dengar. Tapiapa hendak diperbuat tak ada daya dan tenaga karena memang aku sakit. Acara sarapan pagi itu kubiarkan lewat begitu saja. Hingga akhirnya datang bapak pembimbing datang mengontrol. Dan bertanya kepadaku “kenapa tidur saja” tegas seperti komandan. “sakit jwabku malas.” Lalu dia menyentuhkan kulit punggung tangannya pada pipiku. “oh, sakit? kalau begitu sarapan dulu yah, nanti bapak bawakan kesini.” setelah sarapan kita kefolikelinik,” Lanjutnya. Tanpa menunggu jawabanku diapun berlalu keruang kamarku. Tak lama kemudian datang temanku membawa sarapan mungkin disuruh bapak pembimbing. Walau dengan kepala berdenyat aku lahap sarapan itu. ingingnya kuhabiskan, maklum, kemarin hanya dapat sarapan saja. Tapi ternyata tak mampuh menghabiskan makan itu hamper-hampir balik lagi.

Ketika jam kerja sudah berlalu beberapa menit aku dipapah dibawa kefoli klinik untuk mendapat perawatan lebih intensip.

Inilah mingkin yang dibilang orang: “sudah jatuh tertimpa tangga, lalu ketiban genting dikerubutin semut lagi, tergenang air pula.” Lengkap bukan?

Jadi akhirnya aku berkesimpulan jika sekarang accesibilitas belum sesuai kebutuhan masyarakat cacad seperti yang tertuang pada perda mengenai accesibilitas untuk orang cacad,tapi kepedulian masyarakat sudah lumayan tinggi,berbeda dengan 3 dekade yang lalu. Dulu, accesibilitas no, kepedulian no. sekarang kepedulian masyarakat sudah ok.

 

Bersambung ke edisi berikutnya

 

  

TEHNIK MENDENGAR DAN GERAK JARI JEMARI

February 11, 2008

TEHKNIK MENDENGAR DAN GERAK JARI JEMARI

Oleh Asib Edi Sukarsa

Menurut saya hal yang sulit untuk diteorikan adalah mengakrabkan suara jaws kepada murid-murid. Tetapi hal ini haruslah atau wajib mereka bisa, agar mereka dapat mendengar, menangkap apa yang tertera pada layar. Dengan bantuan screen reader. Untuk mencapai hal itu, mereka wajib latihan baik dengan bimbingan instruktur, atau berlatih sendiri.

Saya sering tersenyum sendiri atau menghela napas panjang, atau kadang-kadang menyuruh: “ayo, ulangi…..” setelah berulang kali menekan tombol yang sama dan JAWS berbunyi sama. Tapi murid saya tidak dapat menirukan, mengulang bahkan menangkap bunyi jaws. Seraya menekan insert plus lima pada numpad, “ayo,apa itu?”

Pernah saya mengetikkan kata “berbelanja” menurut murid saya katanya: “babi loncat” lagi-lagi saya baca kedua kata itu sekaligus tetap murid saya menangkapnya “babi loncat” saya tidak tahan menahan tawa. kemudian saya tanya loncat kemana? Murid sayapun ikut tertawa. Kemudian saya menulis lagi dan saya bunyikan agar ditirukan “pasar” dia katakan “basah” lalu saya eja hurupnya satu persatu baru dia dapat merangkaikan dan menyebutkan.  Saya suruh murid saya menirukan dengan maksud agar dia dapat menangkap suara jaws. Hal ini terjadi pada murid tertentu saja, tidak terjadi pada murid kebanyakan. Bagi murid yang sudah terbiasa atau sudah familier  dengan aksen dan suara jaws saya beri tugas mendengarkan salah satu cerita dari cd (elektronik book). Pada tahap awal biasanya gurunya yang membukakan. Kemudian saya suruh dia menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Yang berhasil menangkap isi ceritanya tentu saya beri Aplus dan nilai yang wajar. Nampak dari kata-kata mereka ada kegembiraan dan kebahagian bisa membaca cerita yang lucu,sedih dan mengasyikan. Dengan cara ini nampak minat dan gairah siswa-siswi saya meningkat.

Diantara keenam murid kelas satu itu, ada diantara mereka yang tidak mau bertanya. Awalnya saya tidak curiga sebab saya beri kepercayaan mereka dalam membacanya agar mengenakan head set. Kecuali murid yang harus saya bimbing dia haruslah membuka head settnya. Lalu murid yang tidak mau bertanya itu saya dekati dan saya kontak dia sambil ditanya “ayo kamu baca apa?”Dia menjawab gugup “membaca cerita yang bapak suruh”seraya dia menekan tombol alt-tab agar komputernya terpokus pada bacaan yang dianjurkan guru. “loh, itu apa satunya lagi kata saya coba saya lihat!” Seraya saya tekan tombol-tombol baca “kok kamu malah baca ini?” Rupanya dia kurang minat dengan bacaan yang disediakan oleh guru sehingga dia membaca cerita porno. “ini bisa kau baca lain waktu saja ya,” kata saya. “ayo, kembali pada pelajaran” lanjut saya.

Beginilah kelemahan menggunakan head set. Bila tidak, berisiknya minta ampun. Belum juga usai mengoreksi si Atep, yang agak kreatif, sudah dipanggil lagi oleh si Kakan minta dilayani karena dia salah tekan sehinga komputernya berpindah fokus. Dengan serta merta saya hampiri si Kakan dan saya beri penjelasan agar kembali pada posisi awal ,

“pak guru komputer  saya kok suaranya begini!” kata Agung Sambil menunjukan bunyi komputernya yang berpindah fokus, “ah itu tekan saja alt-tab!” Kata saya tapi dia tekan tombol yang lain bukan tombol yang saya maksud, otomatis kesalahannya semakin jauh. Dengan begitu keyboardnya harus saya ambil alih sementara, untuk dikembalikan pada posisi awal,tapi belum juga tuntas, sudah ada yang teriak lagi, “pak guru ini jawsnya tidak berbunyi!” kali ini Jaka minta dilayani,  anaknya kurang sabar lagi. “sebentar, tunggu dulu .” jawab saya. Belum  juga teriakan si Jaka terlayani, sudah ada lagi yang bertanya “ini kenapa komputer saya tiba-tiba bacaannya beda?” “tunggu satu satu dong” teriak saya.

Walau saya sudah bilang nanti dulu eh,…. Si Santus teriak “Pak! Pak! Ini komputer saya kok minta restart!”. “loh kenapa lagi? Itu kan bukan demo.” Kata saya sambil mengambil alih keyboardnya untuk saya kontrol. Selidik punya selidik file otorisasinya terhapus, rupanya Ia mengeksflore sendiri menghabiskan rasa kepanasaranannya hingga akhirnya file otorisasi terhapus. Terlibat  aktif dan bangkit minat dan gairahnya saya sering kewalahan. Hingga terasa badan satu ini ditarik-tarik kekiri dan kekanan bahkan ke belakang. Oleh sebab itu ditangan saya selalu terdapat tisu karena dileher saya berkeringat. Memang walaupun kelasikal tetapi menuntut sekali pelayanan individual. Ditambah lagi radiasi dari ke enam unit komputer yang tidak dilengkapi oleh pendingin udara (AC).

Diakhir pelajaran saya suka menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyan. “yu, siapa yang mau bertanya?” kata saya. “pak guru kok komputer saya tidak mau rata kiri kenapa ya?” Tanya si kakan. “saya sudah mengebloknya dan menekan control plus l” lanjutnya. “coba tekan insert plus f, apa informasi yang kita dapat?” lalu dia tekan dan jaws berbunyi “12 point arial normal style spacing 1,5 persen one line alighment first line identified by 1,27 centimeters left  body text “dari informasi yang kita dengar sudah menunjukan rata kiri”. ” Tapi saya lihat dilayar belum rata kiri ujar si Kakan yang lowvision sambil merapatkan mukanya ke layar komputer, “tuh pak, baris pertama masih menjorok kedalam.” Kenapa  ya saya dengar JAWS  sudah mengatakan rata kiri? Tapi kenyataanya dilayar baris pertama masih menjorok. Saya lalu berinisiatif untuk membuka menu special dan,….. tahulah saya di situ memang yang terselect firstline, kemudian saya rubah menjadi non, baru tampilan ketikan si Kakan itu mau rata kiri dengan menekan shortcut control plus L. kemudian saya menjelaskan sebab musabab kenapa tampilan komputer itu tidak sesuai harapan walau menurut standar prosedur sudah betul tapi kenyataannya lain, ini terkait dengan difaltnya bagaimana, Atau settingannya.? Saya merasa puas, dan murid saya girang karena berhasil menampilkan ketikannya sesuai dengan yang diinginkan.

Pristiwa lainnya yang tidak dapat saya lupakan, ketika murid saya terdiam kaku, tangannya dingin dan kaku diatas keyboard, badannya lurus menjulang, lehernya seperti tiang listrik bisu mematung, beberapa kali saya “Tanya kenapa Kamu? ayo kenapa?” Lalu saya sentuh bahunya terasa kokoh tak bergoyang sedikitpun. “ehh  kenapa kamu?” Saya kehabisan akal, lalu saya bergi kebelakang, untuk mencari orang awas. Disitu ada pak Budi yang sedang mengetik. “Bud, tolong lihat si Risma kenapa membeku seperti itu?” Pak Budipun tanpa diperintah dua kali beranjaklah dia dari tempat duduknya. Untuk melihat Risma yang sedang terpaku di depan komputernya. Tiba-tiba pak Budi terdengar bilang “biasa sajahlah  Ris,…  jangan tegang seperti itu, santai saja, pak Asib juga tidak apa-apa tidak usah disikapi seperti itu sudah tidak usah menangis. Kalau memang belum bisa sabar dong, tidak perlu putus asa , sudah yu kamu minum dulu….!” bujuk pak Budi hendak menenangkan. Risma tidak berkata –kata dia hanya menurunkan kedua tangannya, dari atas keyboardnya. Nampak seperti lemas banget. Lesu tak berdaya. Dan sesekali menyeka air matanya dengan tisu yang berada pada tangannya. Kemudian dengan nada pelan-pelan saya menanyakan sabab musabab kenapa ia menangis? Sakitkah? Atau saya mengajarnya terlalu keras? Tak ada jawaban. Disuruh minum tak mau, ditanya tak menjawab. Lama kami berada dalam keheningan. Baik saya maupun pak Budi berfikir mencari kemungkinan kenapa dia sampai terpuruk seperti itu. Akhirnya saya dan pak Budi lama sekali memberikan nasihat dan bujukan agar ia mau berbicara apa masalahnya. Namun sepanjang jam pelajaran itu tetap tak berhasil. Lalu saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri terlalu keraskah? Saya bandingkan dengan gaya mengajar saya terhadap murid lain, biasa saja.

Hingga jam pelajaran berakhir, luput tak menemukan jawaban. Padahal menurut perasaan saya, saya tidak membentak, saya tidak mencaci maki, saya tidak memburu-buru, mengancam juga tidak, intimidasi….tidak juga, saya mengajar dia semampunya dia bergerak.

Keesokan harinya, selidik punya selidik diperoleh kabar bahwa pak Asib menghela napas begitu dalam terdengar oleh Risma. Diterjemaahkan Risma seperti yang kesal. dan pada saat itu emosi dia telah sampailah kepada puncak keputus asaan. Memang oleh saya dia disuruh terus mengulang sambil jika salah saya betulkan itu terjadi berulang-ulang. Jadi mungkin itu klimaks dari kejenuhan, kelelahan, kekesalan dan keputus asaan.

Sejak pristiwa itu strategi mengajar saya agak direvisi, jika ada yang berat seperti itu tidak lagi mendril terlalu lama.

TEHKNIK MENDENGAR DAN GERAK JARI JEMARI

Oleh Asib Edi Sukarsa

Menurut saya hal yang sulit untuk diteorikan adalah mengakrabkan suara jaws kepada murid-murid. Tetapi hal ini haruslah atau wajib mereka bisa, agar mereka dapat mendengar, menangkap apa yang tertera pada layar. Dengan bantuan screen reader. Untuk mencapai hal itu, mereka wajib latihan baik dengan bimbingan instruktur, atau berlatih sendiri.

Saya sering tersenyum sendiri atau menghela napas panjang, atau kadang-kadang menyuruh: “ayo, ulangi…..” setelah berulang kali menekan tombol yang sama dan JAWS berbunyi sama. Tapi murid saya tidak dapat menirukan, mengulang bahkan menangkap bunyi jaws. Seraya menekan insert plus lima pada numpad, “ayo,apa itu?”

Pernah saya mengetikkan kata “berbelanja” menurut murid saya katanya: “babi loncat” lagi-lagi saya baca kedua kata itu sekaligus tetap murid saya menangkapnya “babi loncat” saya tidak tahan menahan tawa. kemudian saya tanya loncat kemana? Murid sayapun ikut tertawa. Kemudian saya menulis lagi dan saya bunyikan agar ditirukan “pasar” dia katakan “basah” lalu saya eja hurupnya satu persatu baru dia dapat merangkaikan dan menyebutkan.  Saya suruh murid saya menirukan dengan maksud agar dia dapat menangkap suara jaws. Hal ini terjadi pada murid tertentu saja, tidak terjadi pada murid kebanyakan. Bagi murid yang sudah terbiasa atau sudah familier  dengan aksen dan suara jaws saya beri tugas mendengarkan salah satu cerita dari cd (elektronik book). Pada tahap awal biasanya gurunya yang membukakan. Kemudian saya suruh dia menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Yang berhasil menangkap isi ceritanya tentu saya beri Aplus dan nilai yang wajar. Nampak dari kata-kata mereka ada kegembiraan dan kebahagian bisa membaca cerita yang lucu,sedih dan mengasyikan. Dengan cara ini nampak minat dan gairah siswa-siswi saya meningkat.

Diantara keenam murid kelas satu itu, ada diantara mereka yang tidak mau bertanya. Awalnya saya tidak curiga sebab saya beri kepercayaan mereka dalam membacanya agar mengenakan head set. Kecuali murid yang harus saya bimbing dia haruslah membuka head settnya. Lalu murid yang tidak mau bertanya itu saya dekati dan saya kontak dia sambil ditanya “ayo kamu baca apa?”Dia menjawab gugup “membaca cerita yang bapak suruh”seraya dia menekan tombol alt-tab agar komputernya terpokus pada bacaan yang dianjurkan guru. “loh, itu apa satunya lagi kata saya coba saya lihat!” Seraya saya tekan tombol-tombol baca “kok kamu malah baca ini?” Rupanya dia kurang minat dengan bacaan yang disediakan oleh guru sehingga dia membaca cerita porno. “ini bisa kau baca lain waktu saja ya,” kata saya. “ayo, kembali pada pelajaran” lanjut saya.

Beginilah kelemahan menggunakan head set. Bila tidak, berisiknya minta ampun. Belum juga usai mengoreksi si Atep, yang agak kreatif, sudah dipanggil lagi oleh si Kakan minta dilayani karena dia salah tekan sehinga komputernya berpindah fokus. Dengan serta merta saya hampiri si Kakan dan saya beri penjelasan agar kembali pada posisi awal ,

“pak guru komputer  saya kok suaranya begini!” kata Agung Sambil menunjukan bunyi komputernya yang berpindah fokus, “ah itu tekan saja alt-tab!” Kata saya tapi dia tekan tombol yang lain bukan tombol yang saya maksud, otomatis kesalahannya semakin jauh. Dengan begitu keyboardnya harus saya ambil alih sementara, untuk dikembalikan pada posisi awal,tapi belum juga tuntas, sudah ada yang teriak lagi, “pak guru ini jawsnya tidak berbunyi!” kali ini Jaka minta dilayani,  anaknya kurang sabar lagi. “sebentar, tunggu dulu .” jawab saya. Belum  juga teriakan si Jaka terlayani, sudah ada lagi yang bertanya “ini kenapa komputer saya tiba-tiba bacaannya beda?” “tunggu satu satu dong” teriak saya.

Walau saya sudah bilang nanti dulu eh,…. Si Santus teriak “Pak! Pak! Ini komputer saya kok minta restart!”. “loh kenapa lagi? Itu kan bukan demo.” Kata saya sambil mengambil alih keyboardnya untuk saya kontrol. Selidik punya selidik file otorisasinya terhapus, rupanya Ia mengeksflore sendiri menghabiskan rasa kepanasaranannya hingga akhirnya file otorisasi terhapus. Terlibat  aktif dan bangkit minat dan gairahnya saya sering kewalahan. Hingga terasa badan satu ini ditarik-tarik kekiri dan kekanan bahkan ke belakang. Oleh sebab itu ditangan saya selalu terdapat tisu karena dileher saya berkeringat. Memang walaupun kelasikal tetapi menuntut sekali pelayanan individual. Ditambah lagi radiasi dari ke enam unit komputer yang tidak dilengkapi oleh pendingin udara (AC).

Diakhir pelajaran saya suka menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyan. “yu, siapa yang mau bertanya?” kata saya. “pak guru kok komputer saya tidak mau rata kiri kenapa ya?” Tanya si kakan. “saya sudah mengebloknya dan menekan control plus l” lanjutnya. “coba tekan insert plus f, apa informasi yang kita dapat?” lalu dia tekan dan jaws berbunyi “12 point arial normal style spacing 1,5 persen one line alighment first line identified by 1,27 centimeters left  body text “dari informasi yang kita dengar sudah menunjukan rata kiri”. ” Tapi saya lihat dilayar belum rata kiri ujar si Kakan yang lowvision sambil merapatkan mukanya ke layar komputer, “tuh pak, baris pertama masih menjorok kedalam.” Kenapa  ya saya dengar JAWS  sudah mengatakan rata kiri? Tapi kenyataanya dilayar baris pertama masih menjorok. Saya lalu berinisiatif untuk membuka menu special dan,….. tahulah saya di situ memang yang terselect firstline, kemudian saya rubah menjadi non, baru tampilan ketikan si Kakan itu mau rata kiri dengan menekan shortcut control plus L. kemudian saya menjelaskan sebab musabab kenapa tampilan komputer itu tidak sesuai harapan walau menurut standar prosedur sudah betul tapi kenyataannya lain, ini terkait dengan difaltnya bagaimana, Atau settingannya.? Saya merasa puas, dan murid saya girang karena berhasil menampilkan ketikannya sesuai dengan yang diinginkan.

Pristiwa lainnya yang tidak dapat saya lupakan, ketika murid saya terdiam kaku, tangannya dingin dan kaku diatas keyboard, badannya lurus menjulang, lehernya seperti tiang listrik bisu mematung, beberapa kali saya “Tanya kenapa Kamu? ayo kenapa?” Lalu saya sentuh bahunya terasa kokoh tak bergoyang sedikitpun. “ehh  kenapa kamu?” Saya kehabisan akal, lalu saya bergi kebelakang, untuk mencari orang awas. Disitu ada pak Budi yang sedang mengetik. “Bud, tolong lihat si Risma kenapa membeku seperti itu?” Pak Budipun tanpa diperintah dua kali beranjaklah dia dari tempat duduknya. Untuk melihat Risma yang sedang terpaku di depan komputernya. Tiba-tiba pak Budi terdengar bilang “biasa sajahlah  Ris,…  jangan tegang seperti itu, santai saja, pak Asib juga tidak apa-apa tidak usah disikapi seperti itu sudah tidak usah menangis. Kalau memang belum bisa sabar dong, tidak perlu putus asa , sudah yu kamu minum dulu….!” bujuk pak Budi hendak menenangkan. Risma tidak berkata –kata dia hanya menurunkan kedua tangannya, dari atas keyboardnya. Nampak seperti lemas banget. Lesu tak berdaya. Dan sesekali menyeka air matanya dengan tisu yang berada pada tangannya. Kemudian dengan nada pelan-pelan saya menanyakan sabab musabab kenapa ia menangis? Sakitkah? Atau saya mengajarnya terlalu keras? Tak ada jawaban. Disuruh minum tak mau, ditanya tak menjawab. Lama kami berada dalam keheningan. Baik saya maupun pak Budi berfikir mencari kemungkinan kenapa dia sampai terpuruk seperti itu. Akhirnya saya dan pak Budi lama sekali memberikan nasihat dan bujukan agar ia mau berbicara apa masalahnya. Namun sepanjang jam pelajaran itu tetap tak berhasil. Lalu saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri terlalu keraskah? Saya bandingkan dengan gaya mengajar saya terhadap murid lain, biasa saja.

Hingga jam pelajaran berakhir, luput tak menemukan jawaban. Padahal menurut perasaan saya, saya tidak membentak, saya tidak mencaci maki, saya tidak memburu-buru, mengancam juga tidak, intimidasi….tidak juga, saya mengajar dia semampunya dia bergerak.

Keesokan harinya, selidik punya selidik diperoleh kabar bahwa pak Asib menghela napas begitu dalam terdengar oleh Risma. Diterjemaahkan Risma seperti yang kesal. dan pada saat itu emosi dia telah sampailah kepada puncak keputus asaan. Memang oleh saya dia disuruh terus mengulang sambil jika salah saya betulkan itu terjadi berulang-ulang. Jadi mungkin itu klimaks dari kejenuhan, kelelahan, kekesalan dan keputus asaan.

Sejak pristiwa itu strategi mengajar saya agak direvisi, jika ada yang berat seperti itu tidak lagi mendril terlalu lama.

TEHKNIK MENDENGAR DAN GERAK JARI JEMARI

Oleh Asib Edi Sukarsa

Menurut saya hal yang sulit untuk diteorikan adalah mengakrabkan suara jaws kepada murid-murid. Tetapi hal ini haruslah atau wajib mereka bisa, agar mereka dapat mendengar, menangkap apa yang tertera pada layar. Dengan bantuan screen reader. Untuk mencapai hal itu, mereka wajib latihan baik dengan bimbingan instruktur, atau berlatih sendiri.

Saya sering tersenyum sendiri atau menghela napas panjang, atau kadang-kadang menyuruh: “ayo, ulangi…..” setelah berulang kali menekan tombol yang sama dan JAWS berbunyi sama. Tapi murid saya tidak dapat menirukan, mengulang bahkan menangkap bunyi jaws. Seraya menekan insert plus lima pada numpad, “ayo,apa itu?”

Pernah saya mengetikkan kata “berbelanja” menurut murid saya katanya: “babi loncat” lagi-lagi saya baca kedua kata itu sekaligus tetap murid saya menangkapnya “babi loncat” saya tidak tahan menahan tawa. kemudian saya tanya loncat kemana? Murid sayapun ikut tertawa. Kemudian saya menulis lagi dan saya bunyikan agar ditirukan “pasar” dia katakan “basah” lalu saya eja hurupnya satu persatu baru dia dapat merangkaikan dan menyebutkan.  Saya suruh murid saya menirukan dengan maksud agar dia dapat menangkap suara jaws. Hal ini terjadi pada murid tertentu saja, tidak terjadi pada murid kebanyakan. Bagi murid yang sudah terbiasa atau sudah familier  dengan aksen dan suara jaws saya beri tugas mendengarkan salah satu cerita dari cd (elektronik book). Pada tahap awal biasanya gurunya yang membukakan. Kemudian saya suruh dia menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Yang berhasil menangkap isi ceritanya tentu saya beri Aplus dan nilai yang wajar. Nampak dari kata-kata mereka ada kegembiraan dan kebahagian bisa membaca cerita yang lucu,sedih dan mengasyikan. Dengan cara ini nampak minat dan gairah siswa-siswi saya meningkat.

Diantara keenam murid kelas satu itu, ada diantara mereka yang tidak mau bertanya. Awalnya saya tidak curiga sebab saya beri kepercayaan mereka dalam membacanya agar mengenakan head set. Kecuali murid yang harus saya bimbing dia haruslah membuka head settnya. Lalu murid yang tidak mau bertanya itu saya dekati dan saya kontak dia sambil ditanya “ayo kamu baca apa?”Dia menjawab gugup “membaca cerita yang bapak suruh”seraya dia menekan tombol alt-tab agar komputernya terpokus pada bacaan yang dianjurkan guru. “loh, itu apa satunya lagi kata saya coba saya lihat!” Seraya saya tekan tombol-tombol baca “kok kamu malah baca ini?” Rupanya dia kurang minat dengan bacaan yang disediakan oleh guru sehingga dia membaca cerita porno. “ini bisa kau baca lain waktu saja ya,” kata saya. “ayo, kembali pada pelajaran” lanjut saya.

Beginilah kelemahan menggunakan head set. Bila tidak, berisiknya minta ampun. Belum juga usai mengoreksi si Atep, yang agak kreatif, sudah dipanggil lagi oleh si Kakan minta dilayani karena dia salah tekan sehinga komputernya berpindah fokus. Dengan serta merta saya hampiri si Kakan dan saya beri penjelasan agar kembali pada posisi awal ,

“pak guru komputer  saya kok suaranya begini!” kata Agung Sambil menunjukan bunyi komputernya yang berpindah fokus, “ah itu tekan saja alt-tab!” Kata saya tapi dia tekan tombol yang lain bukan tombol yang saya maksud, otomatis kesalahannya semakin jauh. Dengan begitu keyboardnya harus saya ambil alih sementara, untuk dikembalikan pada posisi awal,tapi belum juga tuntas, sudah ada yang teriak lagi, “pak guru ini jawsnya tidak berbunyi!” kali ini Jaka minta dilayani,  anaknya kurang sabar lagi. “sebentar, tunggu dulu .” jawab saya. Belum  juga teriakan si Jaka terlayani, sudah ada lagi yang bertanya “ini kenapa komputer saya tiba-tiba bacaannya beda?” “tunggu satu satu dong” teriak saya.

Walau saya sudah bilang nanti dulu eh,…. Si Santus teriak “Pak! Pak! Ini komputer saya kok minta restart!”. “loh kenapa lagi? Itu kan bukan demo.” Kata saya sambil mengambil alih keyboardnya untuk saya kontrol. Selidik punya selidik file otorisasinya terhapus, rupanya Ia mengeksflore sendiri menghabiskan rasa kepanasaranannya hingga akhirnya file otorisasi terhapus. Terlibat  aktif dan bangkit minat dan gairahnya saya sering kewalahan. Hingga terasa badan satu ini ditarik-tarik kekiri dan kekanan bahkan ke belakang. Oleh sebab itu ditangan saya selalu terdapat tisu karena dileher saya berkeringat. Memang walaupun kelasikal tetapi menuntut sekali pelayanan individual. Ditambah lagi radiasi dari ke enam unit komputer yang tidak dilengkapi oleh pendingin udara (AC).

Diakhir pelajaran saya suka menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyan. “yu, siapa yang mau bertanya?” kata saya. “pak guru kok komputer saya tidak mau rata kiri kenapa ya?” Tanya si kakan. “saya sudah mengebloknya dan menekan control plus l” lanjutnya. “coba tekan insert plus f, apa informasi yang kita dapat?” lalu dia tekan dan jaws berbunyi “12 point arial normal style spacing 1,5 persen one line alighment first line identified by 1,27 centimeters left  body text “dari informasi yang kita dengar sudah menunjukan rata kiri”. ” Tapi saya lihat dilayar belum rata kiri ujar si Kakan yang lowvision sambil merapatkan mukanya ke layar komputer, “tuh pak, baris pertama masih menjorok kedalam.” Kenapa  ya saya dengar JAWS  sudah mengatakan rata kiri? Tapi kenyataanya dilayar baris pertama masih menjorok. Saya lalu berinisiatif untuk membuka menu special dan,….. tahulah saya di situ memang yang terselect firstline, kemudian saya rubah menjadi non, baru tampilan ketikan si Kakan itu mau rata kiri dengan menekan shortcut control plus L. kemudian saya menjelaskan sebab musabab kenapa tampilan komputer itu tidak sesuai harapan walau menurut standar prosedur sudah betul tapi kenyataannya lain, ini terkait dengan difaltnya bagaimana, Atau settingannya.? Saya merasa puas, dan murid saya girang karena berhasil menampilkan ketikannya sesuai dengan yang diinginkan.

Pristiwa lainnya yang tidak dapat saya lupakan, ketika murid saya terdiam kaku, tangannya dingin dan kaku diatas keyboard, badannya lurus menjulang, lehernya seperti tiang listrik bisu mematung, beberapa kali saya “Tanya kenapa Kamu? ayo kenapa?” Lalu saya sentuh bahunya terasa kokoh tak bergoyang sedikitpun. “ehh  kenapa kamu?” Saya kehabisan akal, lalu saya bergi kebelakang, untuk mencari orang awas. Disitu ada pak Budi yang sedang mengetik. “Bud, tolong lihat si Risma kenapa membeku seperti itu?” Pak Budipun tanpa diperintah dua kali beranjaklah dia dari tempat duduknya. Untuk melihat Risma yang sedang terpaku di depan komputernya. Tiba-tiba pak Budi terdengar bilang “biasa sajahlah  Ris,…  jangan tegang seperti itu, santai saja, pak Asib juga tidak apa-apa tidak usah disikapi seperti itu sudah tidak usah menangis. Kalau memang belum bisa sabar dong, tidak perlu putus asa , sudah yu kamu minum dulu….!” bujuk pak Budi hendak menenangkan. Risma tidak berkata –kata dia hanya menurunkan kedua tangannya, dari atas keyboardnya. Nampak seperti lemas banget. Lesu tak berdaya. Dan sesekali menyeka air matanya dengan tisu yang berada pada tangannya. Kemudian dengan nada pelan-pelan saya menanyakan sabab musabab kenapa ia menangis? Sakitkah? Atau saya mengajarnya terlalu keras? Tak ada jawaban. Disuruh minum tak mau, ditanya tak menjawab. Lama kami berada dalam keheningan. Baik saya maupun pak Budi berfikir mencari kemungkinan kenapa dia sampai terpuruk seperti itu. Akhirnya saya dan pak Budi lama sekali memberikan nasihat dan bujukan agar ia mau berbicara apa masalahnya. Namun sepanjang jam pelajaran itu tetap tak berhasil. Lalu saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri terlalu keraskah? Saya bandingkan dengan gaya mengajar saya terhadap murid lain, biasa saja.

Hingga jam pelajaran berakhir, luput tak menemukan jawaban. Padahal menurut perasaan saya, saya tidak membentak, saya tidak mencaci maki, saya tidak memburu-buru, mengancam juga tidak, intimidasi….tidak juga, saya mengajar dia semampunya dia bergerak.

Keesokan harinya, selidik punya selidik diperoleh kabar bahwa pak Asib menghela napas begitu dalam terdengar oleh Risma. Diterjemaahkan Risma seperti yang kesal. dan pada saat itu emosi dia telah sampailah kepada puncak keputus asaan. Memang oleh saya dia disuruh terus mengulang sambil jika salah saya betulkan itu terjadi berulang-ulang. Jadi mungkin itu klimaks dari kejenuhan, kelelahan, kekesalan dan keputus asaan.

Sejak pristiwa itu strategi mengajar saya agak direvisi, jika ada yang berat seperti itu tidak lagi mendril terlalu lama.

February 6, 2008

Menurut saya hal yang sulit untuk diteorikan adalah mengakrabkan suara jaws kepada murid-murid. Tetapi hal ini haruslah atau wajib mereka bisa, agar mereka dapat mendengar, menangkap apa yang tertera pada layar. Dengan bantuan screen reader. Untuk mencapai hal itu, mereka wajib latihan baik dengan bimbingan instruktur, atau berlatih sendiri. Saya sering tersenyum sendiri atau menghela napas panjang, atau kadang-kadang menyuruh: “ayo, ulangi…..” setelah berulang kali menekan tombol yang sama dan JAWS berbunyi sama. Tapi murid saya tidak dapat menirukan, mengulang bahkan menangkap bunyi jaws. Seraya menekan insert plus lima pada numpad, “ayo,apa itu?” Pernah saya mengetikkan kata “berbelanja” menurut murid saya katanya: “babi loncat” lagi-lagi saya baca kedua kata itu sekaligus tetap murid saya menangkapnya “babi loncat” saya tidak tahan menahan tawa. kemudian saya tanya loncat kemana? Murid sayapun ikut tertawa. Kemudian saya menulis lagi dan saya bunyikan agar ditirukan “pasar” dia katakan “basah” lalu saya eja hurupnya satu persatu baru dia dapat merangkaikan dan menyebutkan.  Saya suruh murid saya menirukan dengan maksud agar dia dapat menangkap suara jaws. Hal ini terjadi pada murid tertentu saja, tidak terjadi pada murid kebanyakan. Bagi murid yang sudah terbiasa atau sudah familier  dengan aksen dan suara jaws saya beri tugas mendengarkan salah satu cerita dari cd (elektronik book). Pada tahap awal biasanya gurunya yang membukakan. Kemudian saya suruh dia menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri. Yang berhasil menangkap isi ceritanya tentu saya beri Aplus dan nilai yang wajar. Nampak dari kata-kata mereka ada kegembiraan dan kebahagian bisa membaca cerita yang lucu,sedih dan mengasyikan. Dengan cara ini nampak minat dan gairah siswa-siswi saya meningkat.Diantara keenam murid kelas satu itu, ada diantara mereka yang tidak mau bertanya. Awalnya saya tidak curiga sebab saya beri kepercayaan mereka dalam membacanya agar mengenakan head set. Kecuali murid yang harus saya bimbing dia haruslah membuka head settnya. Lalu murid yang tidak mau bertanya itu saya dekati dan saya kontak dia sambil ditanya “ayo kamu baca apa?”Dia menjawab gugup “membaca cerita yang bapak suruh”seraya dia menekan tombol alt-tab agar komputernya terpokus pada bacaan yang dianjurkan guru. “loh, itu apa satunya lagi kata saya coba saya lihat!” Seraya saya tekan tombol-tombol baca “kok kamu malah baca ini?” Rupanya dia kurang minat dengan bacaan yang disediakan oleh guru sehingga dia membaca cerita porno. “ini bisa kau baca lain waktu saja ya,” kata saya. “ayo, kembali pada pelajaran” lanjut saya. Beginilah kelemahan menggunakan head set. Bila tidak, berisiknya minta ampun. Belum juga usai mengoreksi si Atep, yang agak kreatif, sudah dipanggil lagi oleh si Kakan minta dilayani karena dia salah tekan sehinga komputernya berpindah fokus. Dengan serta merta saya hampiri si Kakan dan saya beri penjelasan agar kembali pada posisi awal , “pak guru komputer  saya kok suaranya begini!” kata Agung Sambil menunjukan bunyi komputernya yang berpindah fokus, “ah itu tekan saja alt-tab!” Kata saya tapi dia tekan tombol yang lain bukan tombol yang saya maksud, otomatis kesalahannya semakin jauh. Dengan begitu keyboardnya harus saya ambil alih sementara, untuk dikembalikan pada posisi awal,tapi belum juga tuntas, sudah ada yang teriak lagi, “pak guru ini jawsnya tidak berbunyi!” kali ini Jaka minta dilayani,  anaknya kurang sabar lagi. “sebentar, tunggu dulu .” jawab saya. Belum  juga teriakan si Jaka terlayani, sudah ada lagi yang bertanya “ini kenapa komputer saya tiba-tiba bacaannya beda?” “tunggu satu satu dong” teriak saya. Walau saya sudah bilang nanti dulu eh,…. Si Santus teriak “Pak! Pak! Ini komputer saya kok minta restart!”. “loh kenapa lagi? Itu kan bukan demo.” Kata saya sambil mengambil alih keyboardnya untuk saya kontrol. Selidik punya selidik file otorisasinya terhapus, rupanya Ia mengeksflore sendiri menghabiskan rasa kepanasaranannya hingga akhirnya file otorisasi terhapus. Terlibat  aktif dan bangkit minat dan gairahnya saya sering kewalahan. Hingga terasa badan satu ini ditarik-tarik kekiri dan kekanan bahkan ke belakang. Oleh sebab itu ditangan saya selalu terdapat tisu karena dileher saya berkeringat. Memang walaupun kelasikal tetapi menuntut sekali pelayanan individual. Ditambah lagi radiasi dari ke enam unit komputer yang tidak dilengkapi oleh pendingin udara (AC). Diakhir pelajaran saya suka menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyan. “yu, siapa yang mau bertanya?” kata saya. “pak guru kok komputer saya tidak mau rata kiri kenapa ya?” Tanya si kakan. “saya sudah mengebloknya dan menekan control plus l” lanjutnya. “coba tekan insert plus f, apa informasi yang kita dapat?” lalu dia tekan dan jaws berbunyi “12 point arial normal style spacing 1,5 persen one line alighment first line identified by 1,27 centimeters left  body text “dari informasi yang kita dengar sudah menunjukan rata kiri”. ” Tapi saya lihat dilayar belum rata kiri ujar si Kakan yang lowvision sambil merapatkan mukanya ke layar komputer, “tuh pak, baris pertama masih menjorok kedalam.” Kenapa  ya saya dengar JAWS  sudah mengatakan rata kiri? Tapi kenyataanya dilayar baris pertama masih menjorok. Saya lalu berinisiatif untuk membuka menu special dan,….. tahulah saya di situ memang yang terselect firstline, kemudian saya rubah menjadi non, baru tampilan ketikan si Kakan itu mau rata kiri dengan menekan shortcut control plus L. kemudian saya menjelaskan sebab musabab kenapa tampilan komputer itu tidak sesuai harapan walau menurut standar prosedur sudah betul tapi kenyataannya lain, ini terkait dengan difaltnya bagaimana, Atau settingannya.? Saya merasa puas, dan murid saya girang karena berhasil menampilkan ketikannya sesuai dengan yang diinginkan. Pristiwa lainnya yang tidak dapat saya lupakan, ketika murid saya terdiam kaku, tangannya dingin dan kaku diatas keyboard, badannya lurus menjulang, lehernya seperti tiang listrik bisu mematung, beberapa kali saya “Tanya kenapa Kamu? ayo kenapa?” Lalu saya sentuh bahunya terasa kokoh tak bergoyang sedikitpun. “ehh  kenapa kamu?” Saya kehabisan akal, lalu saya bergi kebelakang, untuk mencari orang awas. Disitu ada pak Budi yang sedang mengetik. “Bud, tolong lihat si Risma kenapa membeku seperti itu?” Pak Budipun tanpa diperintah dua kali beranjaklah dia dari tempat duduknya. Untuk melihat Risma yang sedang terpaku di depan komputernya. Tiba-tiba pak Budi terdengar bilang “biasa sajahlah  Ris,…  jangan tegang seperti itu, santai saja, pak Asib juga tidak apa-apa tidak usah disikapi seperti itu sudah tidak usah menangis. Kalau memang belum bisa sabar dong, tidak perlu putus asa , sudah yu kamu minum dulu….!” bujuk pak Budi hendak menenangkan. Risma tidak berkata –kata dia hanya menurunkan kedua tangannya, dari atas keyboardnya. Nampak seperti lemas banget. Lesu tak berdaya. Dan sesekali menyeka air matanya dengan tisu yang berada pada tangannya. Kemudian dengan nada pelan-pelan saya menanyakan sabab musabab kenapa ia menangis? Sakitkah? Atau saya mengajarnya terlalu keras? Tak ada jawaban. Disuruh minum tak mau, ditanya tak menjawab. Lama kami berada dalam keheningan. Baik saya maupun pak Budi berfikir mencari kemungkinan kenapa dia sampai terpuruk seperti itu. Akhirnya saya dan pak Budi lama sekali memberikan nasihat dan bujukan agar ia mau berbicara apa masalahnya. Namun sepanjang jam pelajaran itu tetap tak berhasil. Lalu saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri terlalu keraskah? Saya bandingkan dengan gaya mengajar saya terhadap murid lain, biasa saja. Hingga jam pelajaran berakhir, luput tak menemukan jawaban. Padahal menurut perasaan saya, saya tidak membentak, saya tidak mencaci maki, saya tidak memburu-buru, mengancam juga tidak, intimidasi….tidak juga, saya mengajar dia semampunya dia bergerak.Keesokan harinya, selidik punya selidik diperoleh kabar bahwa pak Asib menghela napas begitu dalam terdengar oleh Risma. Diterjemaahkan Risma seperti yang kesal. dan pada saat itu emosi dia telah sampailah kepada puncak keputus asaan. Memang oleh saya dia disuruh terus mengulang sambil jika salah saya betulkan itu terjadi berulang-ulang. Jadi mungkin itu klimaks dari kejenuhan, kelelahan, kekesalan dan keputus asaan. Sejak pristiwa itu strategi mengajar saya agak direvisi, jika ada yang berat seperti itu tidak lagi mendril terlalu lama.                 

INILAH POTREKU SESUNGGUHNYA

February 4, 2008

INILAH POTREKU SESUNGGUHNYA

I.                    IDENTITAS.

II.                 SUKA DUKA

III.               BUKU YANG PERNAH DIBACA.

IV.              DAMPAK POSITIF

V.                 HARAPAN

VI.              LAMPIRAN

I.                    IDENTITAS.

Nama               : Asib Edi Sukarsaa

Umur                : 43 tahun

Alamat             : Kp. Talun Raya No. 17 Kec. Cimaung Kab. Bandung

Pekerjaan         : Guru

Jenis kelamin    : Laki-laki

Agama             : Islam

II.                 SUKA DUKA

Disamping sebagai guru yang menjadi tugas pokok, saya juga mendapat kepercayaan tambahan yaitu sebagai pustakawan di perpustakaan sekolah. Jadi sebagai pustakawan saya banyak mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berharga bagi kehidupan saya pribadi. seperti:

  1. Saya dapat mengenal banyak sifat atau karakter orang–orang tidak terbatas pada murid saya saja.
  2. Dari sifat atau karakter orangg-orang yang berbeda itu menuntut saya untuk berbuat lebih bijaksana.
  3. Saya senang banyak mengenal orang orang  bukan saja murid tetapi juga guru guru yang pernah dating keperpustakaan .
  4. Saya senag memiliki keterampilan tambahan bagai mana mengelola perpustakaan, dari mulai bagai mana membuat perencanaan atau mengadaan bahan pustaka.
  5. Bagai mana pengadministrasian bahan pustaka.
  6. Membuat katalog dan menata aneka macam bahan pustaka.
  7. Memberi informasi mengenai bahan pustaka yang ada.
  8. Memberikan pelayanan peminjaman bahan pustaka kepada anggota perpustakaan yang mencakup seluruh siswa dan guru ditambah tunanetra yang berdomisili di sekitar lokasi perpustakaan.

Selain pengalaman yang menyenangkan diatas, saya sebagai pustakawan sekolah masih prihatin dengan:

  1. Minat baca yang masih rendah
  2. Fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas, seperti electronic book yang hanya bisa dibaca dengan komputer sedangkan komputer yang disediakan sangat terbatas itupun harus bergantian dengan kursus komputer. Fasilitas lain seperti cd player hanya tersedia dua buah, ini juga menjadi kendala karena diantara anggota suka berebut untuk memutar bahan pustaka berupa digital talking book.
  3. Kurangnya tenaga / petugas yang bisa melayani secara full time sedangkan jumlah anggotanya sudah sekitar duaratusan yang menuntut perpustakaan dibuka lebih lama. Adapun rincian tugas harian adalah sbb:
  4.  menyapu debu dari mebeler dan computer serta rak kaset.
  5. melayani anggota yang dating meliputi mecari bahan pustaka yang ia butuhkan, mencatat di buku peminjam, menyimpan bahan pustaka yang dikembalikannya, mencatat di buku pengembalian, dan banyak lagi tugas-tugas lainnya. 
  6. Keprihatinan lainnya, ketika anggota tidak tepat waktu mengembalikan bahan pustaka yang dipinjam, saya sebagai petugas harus membuat surat peringatan atau menagihnya ke alamat anggota menjadikan pekerjaan tambahan bagi saya.

III.               BUKU YANG PERNAH DIBACA

Disela sela kesibukan saya sebagai guru dan sebagai pustakawan diperpustakaan sekolah saya menyempatkan membaca buku buku yang dikirim oleh YMN pusat ke perpustakaan sekolah. Adapun judul judul buku yang pernah saya baca ( semenjak peluncuran perpustakaan digital pada April 2006 sampai Oktober 2006) adalah sebagai berikut:

  1. judul buku        : Agar menulis mengarang bisa gampang

pengarang         : Andrias Hafera

penerbit            : Gramedia

  1. judul buku        : Higway to Success

pengarang         : Andrew Ho

penerbit            : Gramedia

  1. judul buku        : Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidika Nasional

pengarang         : Hardjana H.P.

penerbit            : Grasindo

  1. judul buku        : Seri tanya jawab penemuan-penemuan terkenal

pengarang         : Wendi Madgwick

penerbit            : Elex Media komputindo

  1. judul buku        : Miss Jutek

pengarang         : Yenny Hardiwijaya

penerbit            : Gagas Media

  1. judul buku        : Jejak-Jejak Jejaka

pengarang         : Zara Zettira Z.R.

penerbit            : Gramedia

  1. judul buku        : Selembut Lumut Gunung

pengarang         : Kurnia Effendi

penerbit            : PT Sekawan Cipta Media

  1. judul buku        : Daripada BeTe Nulis Aja Panduan Nulis Asyik

pengarang         : Caryin Mirriam G. Ph.D.

penerbit            : Kaifa

  1. judul buku        : Smart Book Buku 1,2,3

pengarang         : Hernowo

penerbit            : Mizan Learning Center

  1. judul buku        : Seri Buku Menjadi Guru Buku 1,2,3

pengarang         : Hernowo

penerbit            : Mizan Learning Center

  1. judul buku        : 100 Ilmuwan yang Berpengaruh dalam Sejarah Dunia

pengarang         : JH. Tiner

penerbit            : Kharisma Publishing House

  1. judul buku        : Menulis di Media Massa Gampang

pengarang         : St. S. Tartono

penerbit            : Yayasan Pustaka Nusatama

  1. judul buku        : Bagaimana Menulis Resume yang Efektif

pengarang         : Bobbi Linkerner

penerbit            : Binarupa Aksara – Amacom

14.  judul buku  : Menjadi Guru Yang Mau Dan Mampu Mengajar Secara    Menyenangkan

pengarang         : Hernowo

penerbit            : Mizan Learning Center

IV.              DAMPAK POSITIF

Setelah membaca buku buku tersebut diatas, dampak positif yang timbul pada diri saya adalah:

  1. tumbuh minat baca ada keinginan untuk membaca setiap ada buku baru.
  2. Timbul keinginan untuk menulis buku atau artikel namun masih terkendala oleh kesibukan sehari hari. Meski demikian saya pernah menulis artikel yang berjudul nikmatnya mengaji (membaca Al Qur’an ) dengan komputer bicara dan saya kirimkan ke majalah Gema Braile yang dimuat pada edisi anak anak dan remaja no 114 (September– Oktober) dan sekarang sedang mencoba menyusun buku yang berjudul Terampil Mengetik Dengan Komputer yang ditujukan untuk pengguna komputer pemula, saat ini masih taraf penyempurnaan.
  3. Menambah wawasan, memperluas ilmu pengetahuan
  4. Menbaca buku menjadi kebutuhan sehari-hari.

Menbaca buku menjadi gaya hidup.

V.                 HARAPAN.

Harapan saya sebagai pengelola perpustakaan juga sebagai pengguna adalah sbb:

  1. program perpustakaan digital atau bahan pustaka berupa Elektronik book dan digital talking book tidak berhenti melainkan terus diproduksi dan dikirim.
  2. CD digital talking book lebih banyak diproduksi karena DTB ini selin dikomputer bisa di dibaca dengan CD player dan sekarang telah beredar mp4 yang dapat dipergunakan oleh tunanetra yang juga bisa dipakai untuk membaca DTB tersebut.
  3. Jumlah koleksi Digital Talking Book dan Electronic Book supaya ditingkatkan lagi.

Selain itu, untuk kedepan agar diadakan pelatihan pengelolaan perpustakaan II. Atau diadakan pelatihan reading and writing skill. Sebab ternyata minat menulis itu telah tumbuh, namun  menulis belum bisa atau masih ragu-ragu.

VI.              LAMPIRAN

NIKMATNYA MRNGAJI (MEMBACA ALQUR’AN) DENGAN MENGGUNAKAN KOMPUTER

Oleh Asib Edi Sukarsa

Allah SWT telah memerintahkan bahwa kita harus “membaca alquaan dengan tartil”, (quraan surat almuzamil ayat 4)menurut penulis tidak bisa otodidak, artinya harus ada guru. untuk mendapatkan pengajaran dan contoh-conto dari guru sangatlah sulit, karena mendatangkan guru dewasa ini sangat banyak kendalanya. penulis menemukan salah satu solusi yaitu dengan menggunakan komputer. Dari segi waktu, anda bisa belajar mengaji dengan komputer ini bisa kapan dan dimana saja. Dari segi harga CD digital alquraan lebih murah hanya Rp 30000 sudah mendapatkan CD alquraan 30 juz lengkap dengan terjemahnya dan pelajaran tajwidnya. Terlebih-lebih jika anda memiliki mp4, anda bisa mengkopinya dan memindahkannya kedalam mp4 tersebut Dari segi wujud pisiknya alquraan 30 juz tidak lagi harus pakai karung seperti quraan Braille selama ini, dengan bantuan mp4 bisa dikanongi pada kantong baju anda, karena metuknya yang tidak jauh lebih besar dari kotak korek api.

  jadi anda dapat menaji disetiap waktu luang anda. Missalnya dikendaraan, sambil menunggu teman, sambil tiduran , sambil melepas lelah  dsb. penulis merasa sangat ketinggalan dengan teknoogi seperti ini tapi sangatlah bersyukur masih mendapatkannya.

Penulis merasa membaca alwuraan lebih mudah serta seakan mendapatkan guru yang pas dalam pembacaan tajwidnya (panjang pondoknya), mahrojnya dan terjemaahnya.dengan menggunakan komputer. Caranya tinggal masukan CD “digital aquraan” ke dalam CPU lalu tekan tombol “weindows plus huruf E” kemudian tekan tab satu kali, tekan panah bawah sampai JFW mengatakan draif “e”atau likal untuk CD, lalu tekan huruf “d” untuk memilih folder digital Aquraan, tekan enter, kemudian tekan huruf “D” untuk memastikan file  “digital alquraan” setelah ini anda dianjurkan untuk menekan road to pisi, (tombol inset plus tombol sudut kanan atas), lalu gerakan kursor keatas atau kebawah dengan menekan panah atas, atau panah bawa. Hingga menemukan nomber surat dari alquraan yang kita inginkan. Lalu klik dengan menekan tombol ketiga dari sudut kanan atas.gerakan lagi kursor ke kiri atau kekanan untuk mencari tombol continue batton lalu tekan lagi klik kiri ,dan diteruskan dengan menggerakan kursor kearah listen batton. Dan klik kiri lagi .

Untuk menggerakan kursor ke kiri, anda tekan tombol inset plus 4 pada numpad, dank ke kanan tombol inset plus 6,pada numpad. Dengan cara ini komputer akan membacakan ayat-ayat yang kita maksud,coba anda buktikan. Disini anda akan mendengarkan ayat-ayat alquraan dilantunkan dengan fasih sekali dan dengan mahroj serta tajwid yang tepat.

Untuk mendapatkan CD dimaksud, bisa anda peroleh di toko-toko sekitar kota anda. Atau bisa juga menghubungi YMN Bandung. Di kompleks wyata guna atau kontak person Asib Edi Sukarsa (022-70238372)

Selamat mencoba

“Ingat ya, tidak ada orang pandai tanpa belajar,

Sebaliknya tidak ada orang bodoh kalau mau belajar.”

Hello world!

November 24, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!